Minggu, 18 Januari 2015

Cara hidup jemaat (KPR 4:32-37)

         Kitab Kisah Para Rasul adalah salah satu Kitab yang ditulis oleh tabib Lukas (yang juga menulis Injil Lukas). Dalam bagian pembukaan dari kitab pertama yang ditulisnya (Lukas 1), tabib Lukas menyatakan bahwa penulisan yang dia kerjakan dilakukan secara teratur dan telah melalui tahapan penyelidikan yang seksama & menyeluruh. Dengan kata lain, tulisan yang dibuat oleh tabib Lukas (Injil Lukas & Kisah Para Rasul), merupakan karya tulis ilmiah yang dapat dipercaya kebenarannya. Di dalam Kisah Para Rasul 4:32-37 dicantumkan informasi tentang cara hidup jemaat, yaitu kumpulan orang yang telah percaya & menerima Yesus sebagai Tuhan & Juruselamat pribadi. Pada bagian ini saya mengajak Anda untuk menemukan fakta-fakta & informasi berdasarkan ayat-ayat dalam Kisah Para Rasul 4:32-37.

         Di dalam ayat 32 ditulis bahwa orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, mereka hidup dalam kesatuan (sehati & sejiwa). Mereka tidak egois, orang-orang percaya tersebut saling berbagi  sesuai dengan kebutuhan masing-masing (ay.34-37). Tabib Lukas juga mencatat bahwa dalam suasana kebersamaan & kerukunan tersebut, rasul-rasul memberitakan kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dengan kuasa yang besar (ay.33a). Mereka hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (ay.33b).

         Berdasarkan informasi & fakta yang telah kita peroleh di atas, saya mengajak Anda untuk memahami kebenaran-kebenaran berikut ini:

1) Tuhan Yesus adalah Raja Damai, sehingga orang yang percaya kepada-Nya akan memiliki karakteristik (ciri khas) sebagai berikut:
a) Cinta damai/rukun (ay.32a, bandingkan Kolose 3:14; Efesus 4:3).
b) Suka berbagi/tidak egois (ay.32b, bandingkan Efesus 4:2; 2Korintus 8:12-15).
c) Tidak rakus/menerima & mengelola berkat sesuai dengan keperluan (ay.35b, bandingkan Matius 6:11; Lukas 3:14; Filipi 4:11; 1 Timotius 6:6-10).
d) Hidup dalam kasih karunia (ay.33b, bandingkan Kisah Para Rasul 13:43b; Roma 5:17).

2) Tuhan Yesus meneguhkan kesaksian rasul-rasul-Nya dengan kuasa yang besar (ay.33a, bandingkan Matius 28:20; Kisah Para Rasul 4:30).

         Setelah memahami kebenaran-kebenaran di atas, saya mengajak Anda untuk memperhatikan bentuk-bentuk penerapan praktisnya dalam kehidupan sehari-hari:
1) Mari hidup rukun, lebih mempererat kesatuan dengan saudara/i seiman.
2) Mari saling berbagi & belajar untuk lebih mendahulukan orang lain daripada diri kita sendiri (berhenti bersikap egois). Baca Filipi 2:3.
3) Mari kita mengelola berkat Tuhan dengan bijaksana.
4) Mari hidup dalam kasih karunia Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus. Meningkatkan kualitas persekutuan kita dengan Tuhan (melalui doa, pembacaan/perenungan Firman Tuhan & puasa), sehingga kita semakin peka dengan pimpinan Roh Kudus.
5) Mari kita sungguh-sungguh memohon agar Tuhan memimpin & menyertai kita untuk menyaksikan Injil-Nya.

"Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil." - Filipi 1:27

Selasa, 13 Januari 2015

Yesus mengutuk pohon ara (Matius 21:18-22)

         Saya percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, saya juga percaya bahwa firman Tuhan adalah bagaikan pelita yang menerangi jalan hidup kita. Pada kesempatan ini saya mengajak Anda untuk mengamati kebenaran dalam Injil Matius 21:18-22 dengan menemukan fakta2 & informasi berdasarkan ayat2 Alkitab.
         Pada pagi2 hari (yun: proia; eng: early, at day break), Yesus berjalan kembali ke Yerusalem, dalam perjalanan tersebut beliau merasa lapar (ay.18). Tuhan Yesus melihat pohon ara & menghampirinya, tetapi Beliau hanya mendapati daun-daun pohon ara (yang tentu saja bukan untuk dimakan) (ay.19a). Tuhan Yesus berkata kepada pohon ara tersebut bahwa ia tidak akan berbuah lagi selama-lamanya. Seketika itu juga pohon ara tersebut kering (ay.19b). Murid2 Tuhan Yesus heran karena melihat pohon ara yang tidak berbuah tersebut tiba2 menjadi kering (ay.20). Kepada murid2 yang sedang heran, Tuhan Yesus menjelaskan perihal kuasa dari perkataan yang diucapkan dengan percaya & tidak bimbang (ay.21). Di akhir bagian dari perikop ini, Tuhan Yesus mengajarkan tentang kuasa atau dampak dari doa yang dipanjatkan dengan penuh kepercayaan.

         Setelah menemukan fakta2 & informasi dari dalam Alkitab, berikut ini saya mengajak Anda untuk mencoba memahami kebenaran dari fakta2 & informasi yang telah kita tuliskan di atas.
         Pertama, Tuhan Yesus adalah Pribadi yang rajin, pagi2 hari Beliau sudah beraktivitas (ay.18; band. Mrk.1:35).
         Kedua, sebelum musim buah yang sebenarnya, pohon ara akan bertunas & mengeluarkan daun yang banyak, serta buah awal yang hanya sebesar buah almond (oleh orang Arab Palestina disebut taqsh). Taqsh tersebut akan rontok sebelum musim buah yang sesungguhnya. Namun taqsh ini tetap dimakan oleh para petani & mereka yang lapar. Jika taqsh ini tidak muncul, dapat dipastikan bahwa pada musimnya nanti pohon ara tersebut tidak akan berbuah. Taqsh inilah yang dicari oleh Tuhan Yesus (Mrk.11:13).
         Tuhan Yesus berharap orang-orang Yahudi yang sudah Dia layani sekitar 3 tahun dapat menghasilkan buah (keubahan hidup yang baik). Namun sampai hari itu, mereka justru belum juga menunjukkan tanda-tanda pertobatan (Luk.13:6-7; band. Yer.8:13; 24:1-10). Dalam Matius 3:10 dikatakan bahwa suatu pohon buah2an semestinya menghasilkan buah yang baik, jika pohon tersebut tidak menghasilkan buah yang baik, lalu apa manfaatnya?
         Iman yang sejati dapat dilihat & dirasakan dampaknya, & perkataan orang beriman besar kuasanya (ay.19-22; band. Mat.8:13; 9:29; 15:28).

         Pada akhirnya saya mengajak Anda untuk melakukan penerapan praktis dari pemahaman-pemahaman tentang kebenaran di atas.
         Yang pertama, mari kita hidup "rajin" sesuai dengan teladan Tuhan Yesus. Jika kita pelajari Alkitab dengan seksama, kita akan mendapati bahwa Tuhan tidak berkenan kepada orang2 yang malas (baca: Mat.25:26-30; Ams.18:9).
         Kedua, mari menghasilkan buah yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan sudah sangat baik kepada kita. Berikut ini adalah buah2 yang harus ada dalam kehidupan kita, yaitu: 1) Buah pertobatan (Mat.3:8); 2) Buah pelayanan/perbuatan (1 Kor.3:12-15); dan 3) Buah Roh Kudus (Gal.5:22-23).
         Pada akhirnya, marilah kita memohon iman yang sejati kepada Tuhan Yesus & berhenti untuk saling menghakimi (karena penghakiman adalah bagian/haknya Tuhan) atau merasa diri benar. Beriman, itu hal yang baik; tapi merasa imannya paling benar, itu tidak baik. Hidup benar, itu hal yang baik; tapi merasa hidupnya paling benar, itu tidak baik. Hidup suci, itu hal yang baik; tapi merasa diri paling suci, itu tidak baik.
- Gloria in exelcis Deo

Senin, 12 Januari 2015

Doa jemaat (KPR 4:23-31)

Pengamatan:
         Petrus & Yohanes dilepaskan sidang Mahkamah Agama (Sanhedrin), kemudian mereka bercerita kepada teman-teman mereka (ay.23). Meresponi cerita yang mereka dengar, teman-teman Petrus & Yohanes berseru kepada Allah (berdoa) bersama-sama. Secara garis besar isi doa mereka adalah sebagai berikut:
1. Pengagungan, mereka menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta langit & bumi, laut & segala isinya (ay.24).
2. Memperkatakan firman Tuhan, mereka mengutip firman Tuhan di dalam Mazmur 2:1-2 (ay.25-26).
3. Menyampaikan pergumulan riil yang sedang mereka hadapi, mereka mengutarakan ancaman yang mereka terima dari para penguasa, bangsa2 & suku2 Israel (ay.27-29a).
4. Menyampaikan permohonan, setidaknya ada tiga hal yang menjadi permohonan mereka, yaitu: a). Keberanian untuk memberitakan firman Tuhan (ay.29b); b). Agar Tuhan berkenan mengulurkan tangan untuk menyembuhkan orang (ay.30a); dan c). Agar Tuhan mengadakan tanda2 & mujizat2 oleh nama Yesus (ay.30b).
         Dampak dari doa yang dipanjatkan oleh orang2 beriman (teman2 Petrus & Yohanes sungguh dahsyat, tempat mereka berkumpul goyang, mereka semua penuh dengan Roh Kudus dan mereka beroleh keberanian untuk memberitakan firman Allah di tengah2 ancaman (ay.31).

Pemahaman:
         Berdasarkan pengamatan yang telah diuraikan di atas ada beberapa hal yang dapat kita pahami, yaitu:
1. Sesama orang beriman perlu bersekutu & berbagi kesaksian untuk saling menghibur & saling menguatkan (ay.23, bandingkan Ibr.10:24-25; Gal.6:2).
2. Meskipun bisa berdoa secara pribadi, berdoa secara bersama2 penting untuk dilakukan oleh orang2 beriman (ay.24-30, bandingkan KPR 2:42).
3. Doa yang benar dari orang2 beriman memiliki dampak yang dahsyat (ay.31, bandingkan Yak.5:16-18).

Penerapan:
         Berikut ini adalah beberapa penerapan praktis yang dapat kita lakukan berdasarkan uraian pelajaran firman Tuhan "Doa jemaat" yang terdapat di dalam Kisah Para Rasul 4:23-31 di atas:
1. Mari kita tingkatkan kualitas persekutuan kita dengan sesama orang beriman (sesama pengikut/murid Kristus). Baca 1 Yoh.3:11-18. Dalam persekutuan dengan sesama orang beriman kita berkesempatan untuk mempraktekkan kasih yang memberi & rela berkorban (ay.16), kasih yang tulus & nyata dalam perbuatan (ay.17-18).
2. Mari berjuang sungguh2 untuk meningkatkan kualitas persatuan di antara sesama tubuh Kristus, ada potensi yang dahsyat dalam persatuan/persekutuan yang kudus (bandingkan Mzm.133:1-3; Mat.18:19).

Kamis, 08 Januari 2015

Kutipan Alkitab berkenaan dengan Allah (1 Korintus 8:3-8)

".. orang yg mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah... tidak ada Allah lain dari pada Allah yg esa... bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yg dari pada-Nya berasal segala sesuatu & yg untuk Dia kita hidup, & satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yg oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan & yg karena Dia kita hidup... Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah."

Rabu, 07 Januari 2015

Nasihat terhadap percabulan (1 Korintus 6:12-20)

Bukan semuanya berguna... aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. .. tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan... tubuhmu adalah anggota Kristus... orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri... tubuhmu adalah bait Roh Kudus... Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Senin, 14 April 2014

Rasul-rasul dilepaskan dari penjara (Kisah Para Rasul 5:17-25)

Pengamatan:
         Oleh karena iri hati, Imam Besar dan para pengikutnya menangkap dan memasukkan rasul-rasul ke dalam penjara (ay.17-18). Namun Tuhan tidak tinggal diam, Dia mengutus seorang malaikat-Nya untuk melepaskan para rasul serta memerintahkan mereka untuk terus memberitakan seluruh firman hidup di Bait Allah (ay.19-20). Tanpa merasa takut terhadap Imam Besar dan para pengikutnya, rasul-rasul mentaati perintah Tuhan untuk terus mengajar dan memberitakan firman hidup di Bait Allah (ay.21a).
         Pada mulanya Mahkamah Agama dan kepala pengawal Bait Allah tidak tahu-menahu tentang apa yang telah terjadi dengan para rasul yang sebelumnya mereka penjarakan (ay.21b-24). Mereka baru tahu peristiwa lepasnya rasul-rasul dari dalam penjara setelah ada seorang yang memberitahukan perihal para rasul yang sedang mengajar orang banyak di Bait Allah (ay.25).

Pemahaman:
         Iri hati telah membuat Imam Besar dan para pengikutnya gelap mata sehingga melakukan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan asas keadilan - mereka memenjarakan rasul-rasul Tuhan Yesus Kristus yang tidak melakukan kejahatan (Kejadian 18:19; Mikha 6:8).
         Pemberitaan firman hidup harus terus dilaksanakan meskipun Imam Besar dan para pengikutnya berupaya untuk menghalangi. Dan meskipun Imam Besar dan para pengikutnya berupaya sedemikian rupa untuk memberangus pemberitaan Injil dan firman pengajaran Tuhan Yesus yang disampaikan oleh para rasul, namun Tuhan Yesus menyatakan kuasa pertolongan-Nya, sehingga rasul-rasul-Nya dapat terus memberitakan firman hidup di Bait Allah.

Penerapan:
         Apabila saat-saat ini Tuhan sedang mempercayakan otoritas kepada kita, kita harus berhati-hati dan mohon pimpinan-Nya agar dapat menjalankan otoritas tersebut dengan benar. Jika tanpa pertolongan Tuhan, mudah sekali manusia menyalahgunakan otoritas yang Tuhan percayakan. Kita harus senantiasa ingat bahwa setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan (Efesus 6:8-9).
         Kepada kita (orang-orang yang sudah diselamatkan), Tuhan memberikan mandat/amanat agar kita memberitakan firman hidup (2 Timotius 4:2). Meskipun memberitakan firman Tuhan bukan tanpa tantangan dan hambatan, mari kita senantiasa setia untuk melaksanakan panggilan Tuhan. Jangan biarkan ketakutan melumpuhkan iman kita, karena Tuhan berkuasa untuk melindungi kita! (Matius 10:16-33).

Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Matius 22:1-14)

Pengamatan:
         Pada bagian firman Tuhan ini, Tuhan Yesus mengumpamakan hal Kerajaan Sorga sebagai seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anak-anaknya (ay.2). Orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin kerajaan tersebut ternyata tidak mau datang (ay.3), mereka tidak mengindahkan undangan sang raja (ay.5), bahkan ada di antara mereka yang menangkap, menyiksa dan membunuh hamba-hamba utusan sang raja (ay.6). Kesimpulannya, para undangan tersebut tidak layak untuk pesta kerajaan itu (ay.8).
    Sang raja murka terhadap para undangan yang telah melecehkannya tersebut, sehingga beliau memerintahkan pasukannya untuk membinasakan dan membakar kota mereka (ay.7).
         Sang raja telah mempersiapkan sebuah pesta besar dengan hidangan makanan yang berlimpah (ay.4), beliau tidak ingin pesta yang telah dipersiapkannya sedemikian rupa tersebut gagal hanya karena para undangan yang tidak mau datang. Oleh sebab itu sang raja memerintahkan hamba-hambanya untuk mengundang orang-orang yang mereka jumpai di persimpangan-persimpangan jalan (ay.9). Sesuai dengan amanat sang raja, hamba-hambanya mengundang semua orang (baik ataupun jahat) yang mereka jumpai di jalan-jalan sehingga ruangan pesta kawin tersebut penuh dengan tamu (ay.10).
         Ketika pesta sedang berlangsung, sang raja mendapati seorang tamu yang tidak berpakaian pesta (ay.11), sang raja pun menegor orang tersebut (ay.12), namun orang itu malah diam saja sehingga hal itu menimbulkan murka raja. Raja pun memerintahkan supaya orang tersebut diikat tangan dan kakinya, serta dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (ay.13) - Sekalipun undangan pesta kawin kerajaan ditujukan bagi semua orang yang mau datang, namun hanya orang-orang yang memenuhi standar raja (yang berpakaian pesta) yang dipilih untuk ikut menikmati sekacita besar dalam pesta tersebut (ay.14).

Pemahaman:
         Alkitab mencatat bahwa akan ada perjamuan malam, pesta kawin Anak Domba, di mana Yesus (Mempelai Pria Sorga) akan bersanding dengan mempelai wanita-Nya (gereja) (Wahyu 19:6-10).
         Sebagaimana ada banyak undangan dalam perumpamaan yang tidak mau datang, demikian juga halnya ada begitu banyak manusia yang menolak undangan Bapa Sorgawi. Mereka lebih memilih untuk hidup sekehendak hatinya, mereka tidak mau berbalik kepada Allah yang hidup. Pada akhirnya, para pembunuh yang menolak undangan Bapa akan berakhir dalam kebinasaan dan nyala api (Wahyu 20:11-15; 2 Petrus 3:3-12).
         Jika undangan yang terdahulu (Perjanjian Lama) hanya ditujukan untuk satu bangsa saja (Israel), maka undangan yang berikutnya (Perjanjian Baru), ditujukan kepada seluruh umat manusia (Yohanes 3:16; Kisah Para Rasul 28:25-28; Roma 11:11-31).
         Hamba-hamba Tuhan (yaitu seluruh orang beriman yang telah ditebus oleh darah Yesus - Roma 6:22; 1 Petrus 2:16) diutus untuk memberitakan Injil (undangan sorgawi) kepada segala bangsa (Matius 28:16-20), dan kepada segala makhluk (Markus 16:15-16).
         Tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta sebagaimana yang pantas untuk menghadiri sebuah pesta perkawinan kerajaan "the royal wedding" akan dikeluarkan dari sukacita pesta kawin kerajaan (Wahyu 3:18). Ada standar kepantasan yang harus diikuti oleh seluruh undangan.

Penerapan:
      Mari berjuang sambil memohon pertolongan Roh Kudus untuk hidup dalam standar Kerajaan Sorga (Efesus 4:17-32; Kolose 3:5-17; Yohanes 14:15-17).
         Sebagai orang-orang yang telah ditebus dengan darah Yesus dan menjadi hamba-hamba Allah, mari penuhi panggilan-Nya untuk memberitakan Injil (undangan pesta kawin sorgawi) (1 Korintus 9:16).