Tampilkan postingan dengan label Injil Matius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Injil Matius. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Februari 2015

Perumpamaan tentang dua orang anak (Matius 21:28-32)

Pengamatan: Mengamati kebenaran dengan menemukan fakta dan informasi berdasarkan ayat Alkitab
         "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini" (ay.28). Tuhan Yesus ingin minta pendapat/ingin tahu bagaimana pendapat imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi (ay.23, band. ay.31). Tuhan Yesus memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyatakan pendapat.
         Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: "Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur." Jawab anak itu: "Baik, bapa." Tetapi ia tidak pergi (ay.28-29). Jika kita perhatikan, anak sulung mulutnya mengatakan "ya", tetapi perbuatannya berkata lain. Jelas bagi kita bahwa ketaatannya hanya sebatas ucapan bibir. Apa yang diucapkan, berbeda dengan apa yang diperbuat.
         Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: "Aku tidak mau." Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga (ay.30). Berbeda dengan yang pertama, anak kedua ini awalnya berontak (tidak taat), tetapi kemudian ia menyesal (dalam terjemahan versi King James repented, yang berarti bertobat).
         Kemudian Tuhan Yesus bertanya kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi: "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir" (ay.31a). Dalam hal ini tampak bahwa imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi masih bisa menilai dengan benar. Meresponi jawaban mereka, Tuhan Yesus lanjut berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah" (ay.31b). "Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya" (ay.32).

Pemahaman: Memahami kebenaran berdasarkan fakta yang telah diperoleh dari dalam Alkitab
         Tuhan Yesus menggunakan sosok anak sulung sebagai analogi bagi imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang di mulut sepertinya taat pada Bapa (Tuhan), namun kenyataannya perbuatan mereka tidak sejalan dengan perkataannya (Matius 23:2-3). Tentang pentingnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan, Tuhan juga pernah memberikan peringatan melalui nabi Yesaya sebagaimana yang ada tertulis dalam Kitab Yesaya 29:13.
         Tuhan Yesus menggunakan sosok anak kedua sebagai analogi bagi para pemungut cukai dan perempuan sundal. Yaitu orang-orang pemberontak yang awalnya tidak hidup seturut firman Tuhan, namun kemudian mereka menyesal dan bertobat (Baca: 2 Tawarikh 7:14; Kisah Para Rasul 26:17-18; Yehezkiel 18:21-23).

Penerapan: Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman
         Mari kita MENGHORMATI Tuhan dengan cara mentaati firman-Nya (Ibrani 3:15-19; Efesus 5:1; Yohanes 14:21).

Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (Matius 21:23-27)

Pengamatan: Menemukan fakta-fakta dan informasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab

         Tuhan Yesus masuk ke Bait Allah & mengajar, imam-imam kepala & tua-tua bangsa Yahudi (yang juga ada di Bait Allah) datang kepada-Nya, mereka bertanya tentang kuasa yang ada pada Yesus & siapa yang memberikan kuasa tersebut kepada-Nya (ay.23). Tuhan Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan mengajukan pertanyaan balik mengenai pendapat mereka tentang asal dari baptisan Yohanes (ay.24,25a).

         Pertanyaan Tuhan Yesus menimbulkan dilema di antara imam-imam kepala & tua-tua bangsa Yahudi (ay.25b,26). Menjawab jujur sesuai fakta & data bahwa baptisan Yohanes dari sorga akan mengungkapkan kemunafikan mereka. Sebaliknya, menyangkal kebenaran & mengatakan bahwa baptisan Yohanes dari manusia akan membahayakan keselamatan mereka (Lukas 20:6).

Cat.: 
Dilema, situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan/menguntungkan; situasi sulit yang membingungkan. KBBI

         Imam-imam kepala & tua-tua bangsa Yahudi berusaha menghindari masalah dengan berkata dusta (mengatakan tidak tahu hal yang sebenarnya mereka ketahui, baca: Markus 11:32; Lukas 7:29-30).
         Tuhan Yesus memutuskan untuk tidak mengatakan kepada mereka dengan kuasa mana Dia bekerja (ay.27).

Pemahaman: Memahami kebenaran berdasarkan fakta-fakta dan informasi yang diperoleh dari Alkitab

         Imam-imam kepala & tua-tua bangsa Yahudi tidak menghiraukan pengajaran Tuhan Yesus, mereka lebih peduli dengan agenda mereka sendiri (ay.23). Baca: Yohanes 8:40, mereka ingin membunuh Yesus; Yohanes 14:23,24, mereka tidak mengasihi Yesus.
         Bukannya percaya kepada Tuhan Yesus, imam-imam kepala & tua-tua bangsa Yahudi justru mempermasalahkan kuasa Tuhan Yesus & siapa yang memberikan kuasa tersebut kepada-Nya (ay.23). Mereka adalah gambaran dari orang-orang yang melihat kuasa Tuhan, tetapi tidak mengalaminya secara pribadi karena tidak percaya!
         Tuhan Yesus tidak menuruti keinginan imam-imam kepala & tua-tua bangsa Yahudi (tidak menyebutkan dengan kuasa mana Dia melakukan hal-hal itu & siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Nya). Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat & manusia tidak dapat memanipulasi Tuhan (ay.24-27; band. Yohanes 2:24-25).

Cat.:
Manipulasi, upaya kelompok atau perseorangan untuk mempengaruhi perilaku, sikap & pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya (mencurangi).

Penerapan: Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman-pemahaman yang telah diperoleh.

(1) Waspada untuk tidak mengesampingkan firman Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi prioritas utama dalam hidup kita, karena mengasihi Tuhan = menuruti firman-Nya (Yohanes 14:23a).

(2) Mari mencari perkenanan Tuhan. Tuhan hanya menyatakan kebenaran-Nya kepada orang-orang yang Dia perkenan (Matius 11:25,26; Mazmur 25:14).

(3) Jangan memanipulasi Tuhan. Sebaliknya, mari kita hidup takut akan Tuhan (Amsal 13:13, band. Kejadian 7:5; Imamat 22:31).

Selasa, 13 Januari 2015

Yesus mengutuk pohon ara (Matius 21:18-22)

         Saya percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, saya juga percaya bahwa firman Tuhan adalah bagaikan pelita yang menerangi jalan hidup kita. Pada kesempatan ini saya mengajak Anda untuk mengamati kebenaran dalam Injil Matius 21:18-22 dengan menemukan fakta2 & informasi berdasarkan ayat2 Alkitab.
         Pada pagi2 hari (yun: proia; eng: early, at day break), Yesus berjalan kembali ke Yerusalem, dalam perjalanan tersebut beliau merasa lapar (ay.18). Tuhan Yesus melihat pohon ara & menghampirinya, tetapi Beliau hanya mendapati daun-daun pohon ara (yang tentu saja bukan untuk dimakan) (ay.19a). Tuhan Yesus berkata kepada pohon ara tersebut bahwa ia tidak akan berbuah lagi selama-lamanya. Seketika itu juga pohon ara tersebut kering (ay.19b). Murid2 Tuhan Yesus heran karena melihat pohon ara yang tidak berbuah tersebut tiba2 menjadi kering (ay.20). Kepada murid2 yang sedang heran, Tuhan Yesus menjelaskan perihal kuasa dari perkataan yang diucapkan dengan percaya & tidak bimbang (ay.21). Di akhir bagian dari perikop ini, Tuhan Yesus mengajarkan tentang kuasa atau dampak dari doa yang dipanjatkan dengan penuh kepercayaan.

         Setelah menemukan fakta2 & informasi dari dalam Alkitab, berikut ini saya mengajak Anda untuk mencoba memahami kebenaran dari fakta2 & informasi yang telah kita tuliskan di atas.
         Pertama, Tuhan Yesus adalah Pribadi yang rajin, pagi2 hari Beliau sudah beraktivitas (ay.18; band. Mrk.1:35).
         Kedua, sebelum musim buah yang sebenarnya, pohon ara akan bertunas & mengeluarkan daun yang banyak, serta buah awal yang hanya sebesar buah almond (oleh orang Arab Palestina disebut taqsh). Taqsh tersebut akan rontok sebelum musim buah yang sesungguhnya. Namun taqsh ini tetap dimakan oleh para petani & mereka yang lapar. Jika taqsh ini tidak muncul, dapat dipastikan bahwa pada musimnya nanti pohon ara tersebut tidak akan berbuah. Taqsh inilah yang dicari oleh Tuhan Yesus (Mrk.11:13).
         Tuhan Yesus berharap orang-orang Yahudi yang sudah Dia layani sekitar 3 tahun dapat menghasilkan buah (keubahan hidup yang baik). Namun sampai hari itu, mereka justru belum juga menunjukkan tanda-tanda pertobatan (Luk.13:6-7; band. Yer.8:13; 24:1-10). Dalam Matius 3:10 dikatakan bahwa suatu pohon buah2an semestinya menghasilkan buah yang baik, jika pohon tersebut tidak menghasilkan buah yang baik, lalu apa manfaatnya?
         Iman yang sejati dapat dilihat & dirasakan dampaknya, & perkataan orang beriman besar kuasanya (ay.19-22; band. Mat.8:13; 9:29; 15:28).

         Pada akhirnya saya mengajak Anda untuk melakukan penerapan praktis dari pemahaman-pemahaman tentang kebenaran di atas.
         Yang pertama, mari kita hidup "rajin" sesuai dengan teladan Tuhan Yesus. Jika kita pelajari Alkitab dengan seksama, kita akan mendapati bahwa Tuhan tidak berkenan kepada orang2 yang malas (baca: Mat.25:26-30; Ams.18:9).
         Kedua, mari menghasilkan buah yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan sudah sangat baik kepada kita. Berikut ini adalah buah2 yang harus ada dalam kehidupan kita, yaitu: 1) Buah pertobatan (Mat.3:8); 2) Buah pelayanan/perbuatan (1 Kor.3:12-15); dan 3) Buah Roh Kudus (Gal.5:22-23).
         Pada akhirnya, marilah kita memohon iman yang sejati kepada Tuhan Yesus & berhenti untuk saling menghakimi (karena penghakiman adalah bagian/haknya Tuhan) atau merasa diri benar. Beriman, itu hal yang baik; tapi merasa imannya paling benar, itu tidak baik. Hidup benar, itu hal yang baik; tapi merasa hidupnya paling benar, itu tidak baik. Hidup suci, itu hal yang baik; tapi merasa diri paling suci, itu tidak baik.
- Gloria in exelcis Deo

Senin, 14 April 2014

Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Matius 22:1-14)

Pengamatan:
         Pada bagian firman Tuhan ini, Tuhan Yesus mengumpamakan hal Kerajaan Sorga sebagai seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anak-anaknya (ay.2). Orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin kerajaan tersebut ternyata tidak mau datang (ay.3), mereka tidak mengindahkan undangan sang raja (ay.5), bahkan ada di antara mereka yang menangkap, menyiksa dan membunuh hamba-hamba utusan sang raja (ay.6). Kesimpulannya, para undangan tersebut tidak layak untuk pesta kerajaan itu (ay.8).
    Sang raja murka terhadap para undangan yang telah melecehkannya tersebut, sehingga beliau memerintahkan pasukannya untuk membinasakan dan membakar kota mereka (ay.7).
         Sang raja telah mempersiapkan sebuah pesta besar dengan hidangan makanan yang berlimpah (ay.4), beliau tidak ingin pesta yang telah dipersiapkannya sedemikian rupa tersebut gagal hanya karena para undangan yang tidak mau datang. Oleh sebab itu sang raja memerintahkan hamba-hambanya untuk mengundang orang-orang yang mereka jumpai di persimpangan-persimpangan jalan (ay.9). Sesuai dengan amanat sang raja, hamba-hambanya mengundang semua orang (baik ataupun jahat) yang mereka jumpai di jalan-jalan sehingga ruangan pesta kawin tersebut penuh dengan tamu (ay.10).
         Ketika pesta sedang berlangsung, sang raja mendapati seorang tamu yang tidak berpakaian pesta (ay.11), sang raja pun menegor orang tersebut (ay.12), namun orang itu malah diam saja sehingga hal itu menimbulkan murka raja. Raja pun memerintahkan supaya orang tersebut diikat tangan dan kakinya, serta dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (ay.13) - Sekalipun undangan pesta kawin kerajaan ditujukan bagi semua orang yang mau datang, namun hanya orang-orang yang memenuhi standar raja (yang berpakaian pesta) yang dipilih untuk ikut menikmati sekacita besar dalam pesta tersebut (ay.14).

Pemahaman:
         Alkitab mencatat bahwa akan ada perjamuan malam, pesta kawin Anak Domba, di mana Yesus (Mempelai Pria Sorga) akan bersanding dengan mempelai wanita-Nya (gereja) (Wahyu 19:6-10).
         Sebagaimana ada banyak undangan dalam perumpamaan yang tidak mau datang, demikian juga halnya ada begitu banyak manusia yang menolak undangan Bapa Sorgawi. Mereka lebih memilih untuk hidup sekehendak hatinya, mereka tidak mau berbalik kepada Allah yang hidup. Pada akhirnya, para pembunuh yang menolak undangan Bapa akan berakhir dalam kebinasaan dan nyala api (Wahyu 20:11-15; 2 Petrus 3:3-12).
         Jika undangan yang terdahulu (Perjanjian Lama) hanya ditujukan untuk satu bangsa saja (Israel), maka undangan yang berikutnya (Perjanjian Baru), ditujukan kepada seluruh umat manusia (Yohanes 3:16; Kisah Para Rasul 28:25-28; Roma 11:11-31).
         Hamba-hamba Tuhan (yaitu seluruh orang beriman yang telah ditebus oleh darah Yesus - Roma 6:22; 1 Petrus 2:16) diutus untuk memberitakan Injil (undangan sorgawi) kepada segala bangsa (Matius 28:16-20), dan kepada segala makhluk (Markus 16:15-16).
         Tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta sebagaimana yang pantas untuk menghadiri sebuah pesta perkawinan kerajaan "the royal wedding" akan dikeluarkan dari sukacita pesta kawin kerajaan (Wahyu 3:18). Ada standar kepantasan yang harus diikuti oleh seluruh undangan.

Penerapan:
      Mari berjuang sambil memohon pertolongan Roh Kudus untuk hidup dalam standar Kerajaan Sorga (Efesus 4:17-32; Kolose 3:5-17; Yohanes 14:15-17).
         Sebagai orang-orang yang telah ditebus dengan darah Yesus dan menjadi hamba-hamba Allah, mari penuhi panggilan-Nya untuk memberitakan Injil (undangan pesta kawin sorgawi) (1 Korintus 9:16).

Minggu, 23 Maret 2014

Perumpamaan tentang Penggarap-penggarap Kebun Anggur (Matius 21:33-46)

(1) Setelah sebelumnya menyampaikan perumpamaan tentang dua orang anak, pada bagian ini Tuhan Yesus menceritakan suatu perumpamaan yang lain, kata-Nya:

"Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain." (ay.33)
  • Pemahaman: Kebun anggur tersebut disewakan dalam keadaan siap pakai.
"... ia menyuruh hamba-hamba-Nya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya." (ay.34)
  • Pemahaman: Tuan tanah dan para penggarap yang menyewa kebun anggurnya telah membuat kesepakatan tentang pembagian hasil kebun anggur di antara mereka.
"Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hamba-Nya itu... Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka... Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya." (ay.35-39)
  • Pemahaman: Para penggarap melanggar kesepakatan bagi hasil dengan tuan tanah pemilik kebun anggur yang telah mereka sepakati dan bahkan berniat untuk memiliki kebun anggur tersebut dengan cara yang jahat.
(2) Tuhan Yesus melemparkan pertanyaan kepada orang-orang yang mendengar perumpamaan-Nya. (ay.40)
  • Pemahaman: Tuhan Yesus hendak mengarahkan perhatian para pendengar kepada nas dalam Kitab Suci (baca, ayat 42).
(3) Jawaban para pendengar terhadap pertanyaan Tuhan Yesus. (ay.41)
  • Pemahaman: Para pendengar berpendapat bahwa para penggarap kebun anggur tersebut adalah orang-orang jahat dan layak dibinasakan. Mereka juga setuju bahwa hak pengelolaan atas kebun anggur tersebut harus dicabut untuk kemudian diserahkan kepada orang-orang yang lebih pantas, yaitu: "yang mau menyerahkan hasilnya kepada tuan tanah pada waktunya."
(4) Tuhan Yesus mengarahkan perhatian para pendengar kepada kebenaran Kitab Suci. (ay.42)
  • Pemahaman: Tuhan Yesus selalu mendasarkan pengajaran-Nya pada firman Tuhan dalam Kitab Suci. Tuhan Yesus sangat menghormati otoritas firman Tuhan/Alkitab (Matius 5:17-19).
(5) "Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu." (ay.43)
  • Pemahaman: Tuhan menghendaki buah! Baca: Matius 3:8-10; Lukas 13:7-9; Matius 21:18-19; Yesaya 5:1-7; Mikha 6:8.
Penerapan:
Mari menjadi kehidupan yang berbuah bagi Tuhan! Bagaimana caranya?
  1. Tekun mempelajari, membaca dan mendengar firman Tuhan dan berusaha sungguh-sungguh untuk memahaminya. Baca: Matius 13:23; Lukas 8:15; Ulangan 5:1.
  2. Berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal Tuhan dengan benar. Baca: Ulangan 4:29; Mazmur 119:127; Amsal 8:13; Yesaya 55:6-7.

Minggu, 16 Maret 2014

Perumpamaan tentang dua orang anak (Matius 21:28-32)

Pengamatan: Menemukan fakta-fakta dan informasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab.

Menyambung pembicaraan yang telah terjadi sebelumnya dengan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (ay.23), Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada mereka untuk menyatakan pendapat. Beliau berkata, "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini?" (ay.28).

"Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi." (ay.28-29).

"Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga."  (ay.30).

"Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." (ay.31a).

Setelah mendengar jawab dari imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, Tuhan Yesus menyatakan kebenaran yang tentu sangat mengagetkan mereka:

"Kata Yesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.'" (ay.31b).

Melengkapi pernyataan-Nya sebelumnya, Tuhan Yesus memberikan penjelasan mengapa para pemungut cukai dan perempuan sundal akan mendahului imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi masuk ke dalam Kerajaan Allah:

"Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (ay.32).

Pemahaman: Memahami kebenaran berdasarkan fakta-fakta dan informasi yang diperoleh dari Alkitab.

Tuhan Yesus menganalogikan (menggambarkan) imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dengan figur anak sulung. Anak sulung berkata "Baik, bapa" yang merupakan ungkapan "ya" atas instruksi dari bapanya, namun perbuatannya tidak sesuai dengan perkataannya. Baca: Matius 23:2-3. Peringatan: Yehezkiel 18:24.

Tuhan Yesus menganalogikan pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal dengan figur anak kedua. Pada awalnya, anak kedua itu memberontak (tidak taat) terhadap instruksi bapanya, namun kemudian ia menyesal (Inggris: repented (KJV), Yunani: metamellomai, artinya: bertobat atas dirinya sendiri/menyesali perbuatannya, memperhatikan seseorang sesudahnya). Baca: 2 Tawarikh 7:14; Kisah Para Rasul 26:17-18; Yehezkiel 18:21-23.

Penerapan: Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman-pemahaman yang telah diperoleh.

Mari menghormati Tuhan dengan cara mentaati firman-Nya!
Baca: Ibrani 3:15-19; Efesus 5:1; Yohanes 14:21.

Minggu, 09 Maret 2014

Pertanyaan Mengenai Kuasa Yesus (Matius 21:23-27)

Pengamatan: "Menemukan fakta-fakta dan informasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab"

Tuhan Yesus masuk ke Bait Allah dan mengajar. Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (yang juga ada di Bait Allah) datang kepada-Nya, mereka bertanya tentang kuasa yang ada pada Tuhan Yesus dan siapa yang memberikan kuasa tersebut kepada-Nya (ay.23).

Tuhan Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan mengajukan pertanyaan mengenai asal baptisan Yohanes (ay.24,25a).

Pertanyaan Tuhan Yesus menimbulkan dilema di antara imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (ay.25b,26). Menjawab jujur sesuai fakta dan data bahwa baptisan Yohanes berasal dari sorga tentu akan mengungkap kemunafikan mereka. Sedangkan menyangkal kebenaran dengan mengatakan bahwa baptisan Yohanes berasal dari manusia akan membahayakan keselamatan mereka (Lukas 20:6). Pada akhirnya imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berusaha menghindari masalah dengan berkata dusta (bilang tidak tahu, padahal tahu - Markus 11:32; Lukas 7:29-30).

Tuhan Yesus memutuskan untuk tidak mengatakan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dengan kuasa mana Dia bekerja (ay.27).

catatan:
Dilema (KBBI): situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan/tidak menguntungkan; situasi yang sulit dan membingungkan.

Pemahaman: "Memahami kebenaran berdasarkan fakta-fakta dan informasi yang diperoleh dari Alkitab"

Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi tidak menghiraukan pengajaran Tuhan Yesus, mereka lebih peduli dengan agenda mereka sendiri (ay.23). Mereka pada dasarnya tidak mengasihi Tuhan Yesus (Yohanes 14:23,24); dan bahkan ingin membunuh-Nya (Yohanes 8:40). Itu sebabnya mereka tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus, mereka justru memilih untuk mempermasalahkan kuasa Tuhan dan siapa yang memberikan kuasa tersebut kepada-Nya (ay.23). Dampaknya, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi tersebut memang mengetahui tentang kuasa Tuhan Yesus, kesembuhan dan mujizat yang Dia kerjakan, namun tidak satupun dari mereka yang mengalaminya.

Tuhan Yesus tidak menuruti keinginan mereka (tidak menjawab pertanyaan mereka) merupakan bukti bahwa Tuhan berdaulat dan manusia tidak dapat memanipulasi Tuhan (ay.24-27; Yohanes 2:24,25).

catatan:
Manipulasi (KBBI): upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap dan pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya (memanipulasi = mencurangi).

Penerapan: "Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman-pemahaman yang telah diperoleh"
  1. Mari kita menjadikan firman Tuhan sebagai prioritas utama hidup kita, karena firman Tuhan adalah Tuhan itu sendiri (Yohanes 1:1). Mengasihi Tuhan Yesus berarti menuruti firman-Nya (Yohanes 14:23a).
  2. Mari sungguh-sungguh berusaha mencari perkenanan Tuhan, karena Tuhan hanya menyatakan kebenaran-Nya pada orang-orang yang beroleh perkenanan-Nya (Matius 11:25; Mazmur 25:14). Caranya adalah dengan beriman kepada Tuhan dan hidup dalam anugerah-Nya (Roma 9:15-33).
  3. Jangan pernah mencoba untuk memanipulasi Tuhan, sebaliknya mari kita hidup takut akan Tuhan (Amsal 13:13). Takut akan Tuhan = TAAT firman dan ketetapan Tuhan (Kejadian 7:5; Imamat 22:31).

Sabtu, 01 Maret 2014

Yesus Mengutuk Pohon Ara (Matius 21:18-22)

Pengamatan: Mengamati kebenaran dengan menemukan fakta-fakta dan informasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab

Pada pagi hari (Yunani: proia = early, at day break) Yesus berjalan kembali ke kota Yerusalem, dalam perjalanan Beliau merasa lapar (ay.18). Tuhan Yesus melihat pohon ara dan menghampirinya, tetapi hanya mendapati daun-daun (yang bukan untuk dimakan-penulis) (ay.19a). Tuhan Yesus berkata kepada pohon ara itu bahwa ia tidak akan berbuah lagi selama-lamanya, dan seketika itu juga pohon ara tersebut kering. 

Murid-murid Tuhan Yesus heran karena melihat pohon ara yang tidak berbuah tersebut tiba-tiba menjadi kering (Yunani: xeraino = dry up, wither) (ay.20). Tuhan Yesus menjelaskan kebenaran tentang kuasa perkataan yang diucapkan dengan percaya dan tidak bimbang (ay.21). Tuhan Yesus juga mengajarkan tentang dahsyatnya kuasa doa yang dipanjatkan dengan penuh kepercayaan (Yunani: pisteuo = to think to be true, to entrust a thing to one) (ay.22).

Pemahaman: Memahami kebenaran berdasarkan fakta-fakta yang telah diperoleh dari dalam Alkitab
  • Tuhan Yesus adalah pribadi yang rajin, pagi-pagi hari Beliau sudah beraktivitas (ay.18; band. Mrk.1:35).
  • Tentang tidak adanya buah pada pohon ara yang dikutuk: "Sebelum musim buah yang sebenarnya, pohon ara akan bertunas dan mengeluarkan daun yang banyak serta buah awal yang hanya sebesar buah almond, orang-orang Arab Palestina menyebut buah ara tersebut taqsh. Taqsh tersebut akan rontok sebelum musim buah yang sesungguhnya. Namun taqsh tersebut biasanya dimakan oleh para petani dan mereka yang lapar. Jika taqsh tidak muncul, dapat dipastikan bahwa pohon ara tersebut tidak akan berbuah pada musimnya nanti. Taqsh inilah yang dicari oleh Tuhan Yesus (baca: Mrk.11:13)."
  • Setiap pohon buah-buahan tentu diharapkan dapat menghasilkan buah pada musimnya, namun jika ternyata pohon tersebut tidak berbuah, lalu apa manfaatnya? (baca: Mat.3:10). Tuhan Yesus berharap orang-orang Yahudi yang sudah Dia layani selama kurang lebih 3 tahun dapat menghasilkan buah, namun kenyataannya mereka bahkan belum juga menunjukkan tanda-tanda pertobatan (Luk.13:6-7; band. Yer.8:13; 24:1-10).
  • Perkataan orang beriman besar kuasanya, dan iman yang sejati adalah iman yang dimanifestasikan/diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat disaksikan dan dirasakan kuasanya (ay.19-22; Mat.8:13; 9:29; 15:28).
Penerapan: Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman-pemahaman yang telah diperoleh
  1. Mari kita hidup rajin sesuai teladan Tuhan Yesus, Tuhan tidak suka orang malas (baca: Mat.25:26-30; Ams.18:9).
  2. Tuhan sudah sangat baik kepada kita, oleh karena itu mari kita menghasilkan buah yang berkenan kepada Tuhan, yaitu:
    • Buah pertobatan (Mat.3:8);
    • Buah pelayanan/perbuatan (1Kor.3:12-15);
    • Buah Roh Kudus (Gal.5:22-3).
  3. Mari kita mohon iman yang sejati kepada Tuhan Yesus dan berhenti saling menghakimi atau merasa diri benar (Gal.6:3-5).
Beriman itu baik, tapi merasa paling beriman itu tidak baik!
Hidup benar itu baik, tapi merasa paling benar itu tidak baik!
Hidup suci itu baik, tapi merasa paling suci itu tidak baik!

Minggu, 23 Februari 2014

Yesus Menyucikan Bait Allah (Matius 21:12-17)

Pengamatan: Mengamati kebenaran dengan menemukan fakta-fakta dan informasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab

Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (ay.12). Bait Suci adalah rumah doa, tetapi otoritas di Bait Suci telah menjadikannya sarang penyamun (ay.13, bandingkan dengan Yesaya 56:7; Yeremia 7:11).

Setelah Yesus menyucikan Bait Allah, orang-orang buta dan orang-orang timpang datang kepada Yesus di Bait Allah dan mereka disembuhkan (ay.14). Aneh tapi nyata, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat tidak suka melihat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, mereka tidak suka melihat anak-anak memuji Tuhan (ay.15-16).

Yesus meninggalkan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (ay.17).

Pemahaman: Memahami kebenaran berdasarkan fakta-fakta yang telah diperoleh dari dalam Alkitab

Tujuan Yesus memasuki kota Yerusalem adalah untuk masuk ke dalam Bait Allah (ay.12). Tindakan Yesus mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah menunjukkan bahwa Ia tidak berkenan dengan adanya kegiatan jual beli di halaman Bait Allah (ay.12).

Bait Allah yang di Yerusalem telah mengalami pergeseran fungsi (ay.13). Seharusnya Bait Allah adalah rumah doa, rumah kesukaan bagi segala bangsa (Yesaya 56:7). Praktek jual beli yang terjadi di Bait Allah menunjukkan bahwa orientasi ibadah tidak lagi berfokus pada Tuhan dan firman-Nya. Keadaan yang memprihatinkan tersebut membuat Bait Allah tidak ubahnya seperti sarang penyamun (Yeremia 7:9-11).

Kehadiran Yesus di Bait Allah menjadikannya bait kesembuhan/pemulihan, bait mujizat dan bait pujian (ay.14-15).

Roh agamawi dan orang-orang yang dipengaruhinya adalah penghambat/penghalang bagi pekerjaan Tuhan. Orang-orang semacam itu bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai tim dalam melayani Tuhan (ay.15-17).

Penerapan: Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh

Bait Allah adalah orang-orang beriman yang telah diselamatkan (1 Korintus 6:19; Ibrani 3:6), karena itu sebagai orang-orang beriman yang telah diselamatkan, kita harus memperhatikan praktek dan motivasi ibadah kita. Apakah yang menjadi tujuan ibadah kita? Siapakah yang kita sembah dalam peribadatan kita?
Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2).

Kita harus mewaspadai roh agamawi yang menganggap agama dan peribadatan hanya sebagai ritual atau tradisi tanpa mau mentaati firman Tuhan (Markus 7:6-9).

Mari kita undang Tuhan Yesus masuk ke dalam hidup kita, masuk ke dalam rumah tangga kita, masuk ke dalam komunitas kita (Wahyu 3:20). Sebab di mana ada Tuhan Yesus, di situ ada kesembuhan/pemulihan, ada mujizat dan ada puji-pujian bagi Allah.

Jumat, 21 Februari 2014

Yesus Dielu-elukan di Yerusalem (Matius 21:1-11)

Pengamatan: Mengamati kebenaran dengan menemukan fakta-fakta dan informasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab

Yesus menyuruh dua orang murid-Nya membawa dua ekor keledai yang ada di kampung di depan mereka kepada-Nya (ay.1-3). Tujuan Tuhan Yesus adalah untuk menggenapi firman Allah (ay.4-5), tentang bagaimana Ia akan masuk Yerusalem (Zakharia 9:9).

Dua orang murid Yesus berbuat seperti yang ditugaskan-Nya kepada mereka, dan dua orang tersebut berhasil melakukan seperti yang telah Yesus perintahkan (ay.6-7).

Sepanjang jalan yang dilalui-Nya menuju Yerusalem, Tuhan Yesus dimuliakan oleh orang banyak, hal itu terjadi sebagai penggenapan firman Allah (ay.8-9; Mazmur 118:26). Kedatangan Tuhan Yesus membuat seluruh kota Yerusalem gempar (ay.10). Orang banyak yang memuliakan Tuhan Yesus mengenal Dia sebagai seorang Nabi (ay.11).

Pemahaman: Memahami kebenaran berdasarkan fakta-fakta yang telah diperoleh dari dalam Alkitab

Yesus mengetahui bahwa di kampung yang ada di depan mereka ada dua ekor keledai yang dapat dibawa kepada-Nya. Ini adalah salah satu bukti tentang keilahian-Nya, yaitu "maha tahu" - omniscience (baca: Ibrani 4:13).

Tujuan kedatangan Tuhan Yesus ke bumi dan segala pekerjaan yang dilakukan-Nya adalah untuk menggenapi firman Allah yang tertulis di dalam Kitab Suci (baca: Yohanes 4:34; Matius 5:17).

Selama kurang lebih 3 1/2 tahun bersama Tuhan Yesus, dua orang murid yang disuruh Tuhan tersebut telah belajar untuk taat kepada firman-Nya. Mereka berbuat tepat seperti yang diperintahkan Tuhan dan mereka berhasil! (baca: Yosua 1:8; Ulangan 11:8-32).

Orang banyak yang memuliakan Tuhan Yesus dan penduduk yerusalem yang gempar oleh kedatangan-Nya ternyata tidak mengenal Dia dengan benar. Mereka hanya mengenal Tuhan Yesus sebagai seorang nabi (baca: Matius 16:16).

Penerapan: Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman

Hiduplah dengan jujur, lurus di hadapan Tuhan, karena tidak ada yang dapat kita sembunyikan dari hadapan-Nya (baca: Ayub 5:13; Mazmur 18:26-27; 32:1-2; 50:23b; Amsal 29:10b).

Rahasia menjadi kehidupan yang berhasil adalah "Taat akan firman Tuhan" (Mazmur 1:1-3). Ingin BERHASIL? = berani TAAT firman Tuhan!

Memeluk suatu agama atau pergi ke rumah suatu ibadah tidak serta-merta menjamin seseorang mengenal Tuhan dengan benar (baca: Matius 11:27). Bersyukurlah jika kita mengenal dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, itu adalah anugerah Tuhan bagi kita! (baca: 1 Korintus 12:3b; Roma 8:15).

Senin, 17 Februari 2014

Yesus membayar bea untuk Bait Allah (Matius 17:24-27)

Pengamatan:  Mengamati kebenaran dengan menemukan fakta dan informasi berdasarkan ayat Alkitab.

Bea Bait Allah adalah pajak 1/2 syikal (kira-kira senilai dengan upah kerja dua hari), dikumpulkan setiap tahun dari setiap laki-laki berusia 20 tahun ke atas untuk pemeliharaan Bait Allah (Keluaran 30:13,14; 2 Tawarikh 24:9).

Pemungut bea Bait Allah menagih pajak Bait Allah kepada Petrus (ay.24,25a).

Dalam percakapan dengan Tuhan Yesus, Petrus setuju bahwa seorang raja memungut pajak dan bea dari orang asing (ay.25b,26).

Agar tidak menjadi batu sandungan, Tuhan Yesus menyuruh Petrus untuk membayar pajak Bait Allah (ay.27).

Tuhan Yesus memberi instruksi yang tidak lazim kepada Petrus tentang bagaimana caranya dia akan memperoleh uang empat dirham untuk membayar bea Bait Allah (ay.27).

Pemahaman:  Memahami kebenaran berdasarkan fakta yang telah diperoleh dari dalam Alkitab.

Alkitab mengajarkan bahwa seluruh umat memiliki tanggung jawab untuk memelihara Bait Allah, khususnya para pria yang sudah dewasa (baca: Hagai 1:1-14).

Tuhan Yesus juga diwajibkan untuk membayar bea Bait Allah?!  Tampaknya sang pemungut bea Bait Allah tidak mengenal Tuhan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Yohanes 1:10,11; 8:19).

Tuhan Yesus dan Petrus sependapat bahwa pemungutan pajak terhadap rakyat (Yunani, uios artinya anak) sendiri merupakan tindakan yang tidak biasa, bahkan dikalangan raja-raja dunia.

Tuhan Yesus tahu bahwa apa yang terjadi kurang tepat (tapi bukan merupakan hal yang prinsip), oleh karena itu Tuhan Yesus mau membayar bea Bait Allah supaya sang penagih tersebut tidak tersandung - Tuhan Yesus menghendaki damai sejahtera (baca: 2 Timotius 1:7; 1 Korintus 14:33; Roma 12:18).

Tuhan Yesus mampu bekerja dengan cara-cara yang ajaib, cara-cara yang melampaui nalar manusia.  Pekerjaan Tuhan seringkali tidak mampu dipahami sepenuhnya oleh manusia (Pengkhotbah 3:11; Roma 11:33-36).

Penerapan:  Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh.

Apakah wujud tanggung jawab kita untuk pemeliharaan Bait Allah dan kelancaran peribadatan kita?  Mari kita persembahkan yang terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan!  (baca: Amsal 3:9,10).  Jangan membuat kesalahan yang sama dengan pemungut bea Bait Allah!  Kita yang harus memberi persembahan kepada Tuhan, bukan menuntut sesuatu dari Tuhan.  Tuhan sudah memberikan yang terbaik! (baca: 1 Petrus 1:18-19; Roma 8:32)

Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang (Lukas 16:8).  Mari belajar untuk lebih bijaksana dalam memperlakukan satu sama lain.  (baca: Galatia 6:1-10)

Seperti Tuhan Yesus yang mengutamakan damai, maukah kita menjadi pembawa damai?  (baca: Matius 5:9; Roma 12:18).  Mari hidup dalam damai sejahtera (Ibrani: shalom/Yunani: eirene), sebagai keluarga Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya (baca: Kolose 3:12-15).


Maukah kita percaya sepenuhnya kepada firman Tuhan?  (baca: Habakuk 2:4; Roma 1:16,17; Ibrani 10:35-39).  Iman sejati diwujudkan dalam ketekunan untuk melakukan firman Tuhan (Yakobus 1:19-27; 2:14-26).

Minggu, 16 Februari 2014

Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus (Matius 17:22-23)

Pengamatan:  Mengamati kebenaran dengan menemukan fakta dan informasi berdasarkan ayat Alkitab.

  1. Yesus dan murid-murid-Nya sedang ada di Galilea (ay.22).
  2. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga (ay.22b-23a).
  3. Murid-murid meresponi perkataan Yesus tersebut  dengan bersedih hati (ay.23b).
Pemahaman:  Memahami kebenaran berdasarkan fakta yang telah diperoleh dari dalam Alkitab.
  1.  Anak Manusia/Mesias (baca: Daniel 7:13-14; Roma 15:12), dinubuatkan akan memerintah bangsa-bangsa.  Bangsa Israel secara umum dan murid-murid Yesus secara khusus berharap bahwa Mesias akan memulihkan kerajaan Israel (baca: Kisah Para Rasul 1:6).
  2. Mendengar perkataan Yesus bahwa Mesias akan diserahkan ke dalam tangan manusia, apalagi dibunuh, tampaknya cukup mengecewakan sekaligus membuat mereka sedih dan bahkan sedih sekali (bandingkan dengan: Matius 11:2-6; Lukas 7:18-23).
  3. Memperhatikan kesedihan murid-murid Yesus, tampaknya mereka tidak mencermati perkataan-Nya dengan seksama, karena Dia juga berkata bahwa Mesias akan bangkit pada hari ketiga (ay.23a).  Murid-murid memusatkan perhatian mereka hanya pada penyerahan dan pembunuhan Mesias.
Penerapan:  Menerapkan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hari berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh.
  1. Kita boleh memiliki harapan/ keinginan/ doa, tetapi jangan memaksakannya, semua harapan/ keinginan/ doa kita harus diselaraskan dengan firman Tuhan/ kehendak Allah (baca: 1 Tesalonika 2:12; 1 Yohanes 5:14).
  2. Hati-hati!!  Jangan salah memahami firman Tuhan (2 Petrus 1:20-21).  Pahami firman Tuhan secara utuh (Kisah Para Rasul 20:26-28).
  3. Perhatikan!!  Seorang hamba Tuhan harus memberitakan seluruh maksud Allah (Kisah Para Rasul 20:27), jangan hanya (dipilihin) bagian-bagian yang membuat pendengar senang (2 Timotius 4:1-5).
  4. Mari kita membaca, mendengar, memahami firman Tuhan dengan cermat dan utuh (Lukas 8:18), kemudian melakukan firman Tuhan tersebut dengan sepenuh hati/ sungguh-sungguh (baca: Yakobus 1:25).  Melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh membuat hidup kita BAHAGIA, BERHASIL dan BERUNTUNG! (baca: Yosua 1:8).

Sabtu, 15 Februari 2014

Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan, Matius 17:14-21 (3)

Ayat 19-21
Penjelasan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Murid-murid ingin tahu, ingin mendapati kebenaran mengapa mereka tidak dapat mengusir setan tersebut.  Seorang beriman tidak segan untuk berseru kepada Tuhan (baca Mazmur 145:18; Yesaya 55:6; Yeremia 33:3).

Penyebab kegagalan murid-murid Yesus adalah "tidak beriman, imannya lemah" apistia (Yunani).  Tuhan berfirman bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang beriman (baca Markus 9:23; Lukas 1:37; Yohanes 14:12).  Orang beriman setia berharap pada janji Tuhan, sampai janji tersebut digenapi (Ibrani 6:15; 10:36; Roma 4:17-25).

Ada pergumulan-pergumulan yang harus dihadapi dengan doa puasa (baca Nehemia 1:3-4; Daniel 9:3-4a).

Teladan:  Mau bertanya kalau ada hal yang tidak dipahami atau kurang dimengerti.

Kesalahan:  Tidak yakin bahwa Roh Kudus diam di dalam kita sehingga tidak berani melakukan tindakan iman (baca 1 Yohanes 4:4).

Tindakan praktis:  Meningkatkan kualitas kerohanian dengan rajin membaca Alkitab, merenungkan firman Tuhan dan berdoa sambil puasa.

Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan, Matius 17:14-21 (2)

Ayat 17-18
Yesus menegor murid-murid-Nya dan mengusir setan keluar dari anak yang sakit.

Tuhan Yesus mensejajarkan tidak beriman dengan kesesatan, karena orang benar hidup oleh imannya/percayanya (baca Habakuk 2:4; Roma 1:16-17; 10:17).

Yang menyebabkan anak laki-laki tersebut sakit adalah setan, Tuhan Yesus berkuasa atas setan dan sakit penyakit (baca Matius 8:16-17).

Dosa yang harus ditinggalkan:  Tidak percaya/meragukan kuasa Tuhan.

kesalahan yang harus ditinggalkan:  Membesar-besarkan setan dan sakit penyakit.

Tindakan praktis yang perlu dikerjakan:  Rajin membaca dan merenungkan firman Tuhan agar iman bertumbuh, rajin bersekutu dengan saudara/i seiman untuk bersama-sama bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan, Matius 17:14-21 (1)

Ayat 14-16
Seorang bapak (man, KJV) datang menyembah Yesus mohon belas kasihan untuk putranya (son, KJV).

Hanya Allah (Elohim) yang layak disembah (Why. 19:10; 22:9; Kel. 20:1-5), kenyataan bahwa Yesus menerima penyembahan seorang bapak menegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Elohim).  Bandingkan dengan Matius 27:54; 1 Yohanes 5:7; Yudas 1:24-25; Yohanes 14:9,10.

Bapak tersebut menyebut Yesus "Tuhan" atau kurios (Yunani) yang berarti:  yang memiliki, yang berkuasa atas orang atau barang, gelar yang diberikan kepada Allah, sang Mesias (Roma 10:12; 1 Korintus 8:6; Yudas 1:4).

Ketika harapannya kepada murid-murid Yesus mengecewakan, si bapak tersebut masih berharap kepada Tuhan Yesus (bandingkan Habakuk 3:17-19; 2 Tawarikh 14:11-12; Kisah Para Rasul 2:21-22; Roma 10:13).

Teladan:
Si bapak tersebut datang kepada Tuhan Yesus dengan kerendahan hati, menyembah dan memuliakan Dia sebagai Tuhan.  Lebih jauh si bapak mau menggantungkan harapannya kepada Tuhan, percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup dan mau menolongnya.

Penerapan praktis:
  • Beribadah kepada Tuhan dengan takut dan gentar (Ulangan 10:12; 11:13-15; Yosua 24:14; Mazmur 2:11-12; 100:2-5).  Menjauhi hal-hal yang tidak memuliakan nama Tuhan, melakukan hal-hal yang menyenangkan hati-Nya (semua hal itu dapat kita temukan dalam Kitab Suci).
  • Terus berharap kepada Tuhan, tekun berdoa sampai Tuhan tolong (Lukas 18:1).